“Kita jatuh bukan karena kita kalah. Kita jatuh karena kita adalah manusia. Kita jatuh karena kita ingin hidup… kita harus memahami diri kita sendiri, dan menyelamatkan diri kita sendiri dengan jatuh (daraku) ke kemampuan terbaik kita“  (Sakaguchi, Zenshu 4 : 59-60).

Perang dunia kedua adalah waktu-waktu keterpurukan yang dalam bagi Jepang. Jaman dulu orang Jepang bener-bener percaya kalo Kaisar (pemimpin tertinggi Jepang) adalah Dewa/Tuhan dan negara mereka adalah negara yang dispesialkan. Oleh karena itu, kekalahan telak mereka saat perang dunia kedua benar-benar menghantam baik fisik maupun mental orang Jepang pada saat itu. Fakta bahwa mereka dipimpin oleh Dewa (kaisar) tapi nyatanya masih bisa dikalahkan oleh negara lain benar-benar mengguncang mental dan kepercayaan mereka terhadap Kaisar pada waktu itu. Ditambah lagi, beredarnya foto prajurit Amerika Serikat bersama Kaisar yang tujuannya untuk nunjukin kalo “apa yang selama ini lo (orang Jepun) anggap Dewa, sekarang gak berkutik dan sama sekali gak ada apa-apanya dibanding kita!”.

Di tengah kekacauan yang ada dalam setiap hati orang jepang, disinilah Sakaguchi Ango menerbitkan essay-nya yang berjudul Darakuron, yang artinya The Fall atau Kejatuhan. Darakuron ini sangat terkenal dan dianggap fenomenal pada jaman itu karena ngandung pesan yang dalem banget. Di dalam Darakuron ini, Ango bilang kalo dekadensi (Darakuron), penurunan, kejatuhan, mungkin seolah-olah berkonotasi negatif, tetapi menurut filosofi Ango sendiri, justru dengan dengan sikap rendah hati terhadap dekadensi itu sendiri, orang baru bakal bisa merti konsep moralitas yang baru dan hakiki. Seperti paragraf yang dia tulis dengan sangat indah di dalam Daraku-ron,

“…to live is actually the only marvelous thing… Japan at war was a utopia of lies. Only void beauty was blooming. This is not the true beauty of human beings… People do not change. They just returned to what people need to be. People corrupt. Even royal retainers and holy women corrupt. This kind of decadence cannot be prevented. By preventing it, there is no way to rescue people. People live, people fall. Outside it there is no convenient shortcut to save people.” (Sakaguchi, Zenshu 4: 58-59)